Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Discussion: Kode Amplop Cokelat dari Blueray untuk Pejabat Bea Cukai

Published Mei 23, 2026 · Updated Mei 23, 2026 · By Thomas Hernandez

Kode Amplop Cokelat dari Blueray untuk Pejabat Bea Cukai: Key Discussion dalam Kasus Korupsi

Key Discussion tentang sistem kode amplop berwarna cokelat yang digunakan oleh John Field, bos Blueray Cargo, dalam memberi suap kepada pejabat Bea dan Cukai semakin menarik perhatian publik. Dalam sidang terbuka di Pengadilan Negeri Tipikor, Rabu (20/5), Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap bahwa kode tersebut dihubungkan dengan praktik suap yang bertujuan mempercepat proses pengiriman barang impor. Kode ini muncul setelah pertemuan John dengan Djaka Budi Utama, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, serta Rizal, Direktur Penindakan dan Penyidikan, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada 22 Juli 2025.

Detail Sistem Kode Amplop dalam Kode Korupsi

Key Discussion menyebutkan bahwa sistem kode amplop cokelat ini diimplementasikan sebagai alat untuk memudahkan transaksi suap. Dalam persidangan, Orlando Hamonangan, Kepala Seksi Intelijen Kepabeanan I Direktorat Penindakan dan Penyidikan, mengakui bahwa kode tersebut digunakan untuk mengidentifikasi siapa yang menerima suap. Menurut JPU, 23 hari setelah pertemuan di Hotel Borobudur, Orlando menyatakan bahwa John dan Sri Pangastuti, seorang perempuan, datang ke kantornya membawa amplop dengan kode 1 hingga 3.

Pengakuan dan Penjelasan Kode

"Amplop cokelat yang dititipkan kepadaku memiliki tulisan inisial nomor 2 dan nomor 1," ujar Orlando.

Orlando menjelaskan bahwa ia tidak tahu pasti tujuan kode 1, tetapi yakin kode 2 dan 3 masing-masing ditujukan untuk Rizal serta Sisprian Subiaksono, Kasubdit Intelijen Direktorat Penindakan dan Penyidikan. Ia juga menyebutkan bahwa amplop kode 1 diserahkan ke Rizal di luar kantor pada akhir pekan. Kode ini dianggap sebagai indikator bahwa suap dilakukan secara terstruktur dan sistematis.

Key Discussion menunjukkan bahwa JPU telah menampilkan data sampling kepada majelis hakim. Dalam tabel yang disajikan, kode 1 DIR, 2 BR, 3 SIS, 4 HEN, 4 BY, dan 4 OC tercantum, yang masing-masing mewakili inisial nama pejabat yang terlibat. "Majelis, kami sampaikan foto tersebut terkait dengan kode-kode yang dipahami oleh Pak Ocoy, menjelaskan siapa penerima jatah amplop," terang jaksa. Data ini memberikan bukti bahwa sistem kode amplop tidak hanya sebagai alat pembayaran, tetapi juga untuk memantau dan melacak alur dana suap.

Respons Pejabat dan Konteks Hukum

Kasubdit Hubungan Masyarakat dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetiyo, mengatakan bahwa pihaknya mendukung proses hukum dan pembuktian dalam kasus ini. "Kami menghormati proses hukum yang berlangsung di pengadilan, sambil tetap menjunjung praduga tak bersalah," tambahnya. Meski demikian, Budi mengakui bahwa sistem kode amplop bisa menjadi indikator kecurangan dalam pengawasan keuangan.

Key Discussion juga mencakup tindakan suap yang dilakukan John Field bersama Dedy Kurniawan Sukolo, Manager Operasional Custom Clearance Pelabuhan, dan Andri, Ketua Tim Dokumen Importasi, dari Blueray Cargo (Grup). Suap ini berupa uang sebesar Rp61 miliar dan fasilitas hiburan serta barang mewah senilai Rp1,8 miliar. Penerima suap meliputi Rizal, Sisprian Subiaksono, dan Orlando Hamonangan. Jaksa menegaskan bahwa kode '2' dan '3' masing-masing merupakan milik Rizal dan Sisprian, sementara kode '1' diduga diberikan kepada Djaka Budi Utama.

Dalam Key Discussion, JPU juga menyampaikan bahwa amplop kode 2-1 memiliki nilai 213.600 Dolar Singapura. Sistem ini dianggap sebagai bentuk transparansi di dalam praktik korupsi, karena memberikan cara pengelompokan dan pemantauan dana yang lebih efisien. Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan dan efektivitas pengawasan internal di Bea dan Cukai.

Kode Amplop dan Impak pada Pemangku Kepentingan

Key Discussion menyoroti bagaimana sistem kode amplop memengaruhi hubungan antara pihak swasta dan pemerintah. Blueray Cargo, perusahaan yang terlibat, diduga menggunakan kode ini untuk memastikan transaksi suap berjalan tanpa kesulitan. Dalam beberapa sidang sebelumnya, pejabat Bea dan Cukai terlibat dalam kasus suap berbagai bidang, seperti pengawasan impor dan penindakan pelanggaran.

Para pejabat Bea dan Cukai yang terlibat dalam kasus ini akan dituntut dalam berkas terpisah. JPU menjelaskan bahwa suap diberikan untuk mempercepat keluarnya barang impor dari proses pemeriksaan. Key Discussion ini menjadi referensi penting dalam mengungkap pola korupsi yang mungkin terjadi di lingkungan Kepabeanan. Dengan sistem kode, suap bisa terjadi secara teratur dan terdokumentasi, yang berdampak pada kepercayaan publik terhadap lembaga pemerintah.

Kode amplop cokelat dari Blueray juga menjadi simbol kebocoran anggaran dalam sistem pemeriksaan bea cukai. Dalam Key Discussion, KPK mengungkap bahwa dana suap ini tidak hanya digunakan untuk mempercepat proses, tetapi juga untuk memastikan keterlibatan pejabat tertentu dalam pengambilan keputusan. Faktor ini memperkuat dugaan bahwa korupsi terjadi secara sistemik, bukan hanya insidental.