Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Tak Selalu Baik bagi Tubuh, Ini 5 Risiko Diet Tinggi Protein

Published Agustus 13, 2026 · Updated Agustus 13, 2026 · By Thomas Hernandez - kabarberita911.com

Foto : Thomas Hernandez - kabarberita911.com

Lima Bahaya Diet Tinggi Protein yang Perlu Diketahui

Kabarberita911.com – Dalam beberapa tahun terakhir, tren mengonsumsi protein dalam jumlah besar semakin diminati masyarakat. Baik melalui suplemen seperti protein shake maupun penerapan pola makan khusus seperti diet Atkins dan paleo, banyak individu percaya bahwa protein adalah kunci untuk membentuk otot dan mengurangi berat badan. Namun, konsumsi berlebihan tidak selalu memberikan manfaat optimal bagi tubuh. Pada situasi tertentu, justru muncul efek samping yang patut diwaspadai.

Oleh karena itu, penting untuk memahami berbagai risiko diet tinggi protein sebelum Anda menjalaninya terlalu jauh. Meskipun baik bagi tubuh, berlebihan mengonsumsi sesuatu bisa mendatangkan efek samping. Berikut ini beberapa risiko yang dipercaya bisa muncul jika Anda kelebihan protein di dalam tubuh.

1. Gangguan Ginjal pada Kelompok Tertentu

Bagi orang dengan ginjal sehat, asupan protein tinggi umumnya masih aman. Akan tetapi, risiko berbeda muncul pada mereka yang sudah memiliki penyakit ginjal. Mengutip laman Health, ginjal bertugas menyaring sisa metabolisme protein, sehingga beban kerjanya bisa meningkat jika asupan protein terlalu tinggi. Pada penderita penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD), pola makan tinggi protein berpotensi mempercepat penurunan fungsi ginjal.

"Penderita CKD disarankan untuk membatasi asupan protein harian sesuai anjuran dokter untuk mencegah beban berlebih pada ginjal," jelas dr. Andi Wijaya, spesialis penyakit dalam dari RS Cipto Mangunkusumo.

2. Penurunan Asupan Nutrisi Lain

Saat seseorang terlalu fokus pada protein, ada kemungkinan makanan lain yang lebih beragam malah tersisih dari menu harian. Diet tinggi protein yang terlalu menekan karbohidrat sering membuat orang kurang mengonsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan legum. Padahal, makanan tersebut kaya serat, vitamin, mineral, antioksidan, dan prebiotik yang penting bagi tubuh. Jika pola makan terlalu didominasi protein hewani, tubuh bisa kekurangan vitamin C, folat, magnesium, dan serat.

3. Masalah Pencernaan Berpotensi Timbul

Risiko diet tinggi protein lainnya, terutama yang sangat rendah karbohidrat, sering kali rendah serat. Padahal serat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan usus dan melancarkan pencernaan. Ketika asupan serat berkurang, keseimbangan mikrobiota usus bisa terganggu. Akibatnya, sebagian orang mengalami sembelit, kembung, atau rasa begah. Untuk mengatasi masalah ini, pastikan Anda tetap mengonsumsi makanan berserat seperti sayuran hijau dan buah-buahan.

4. Tidak Selalu Lebih Baik untuk Kesehatan Jantung

Banyak orang khawatir diet tinggi protein berdampak buruk pada jantung. Mengutip Healthline, penelitian terbaru tidak selalu menunjukkan hubungan langsung antara protein tinggi dan penyakit jantung. Namun, masalah bisa muncul jika sumber protein yang dipilih kurang sehat, misalnya terlalu banyak daging olahan atau lemak jenuh. Jadi, bukan hanya jumlah protein yang perlu diperhatikan, tetapi juga kualitas sumbernya.

5. Gangguan Kesehatan Tulang Jika Pola Makan Buruk

Sempat ada anggapan protein tinggi dapat menurunkan kepadatan tulang. Meski penelitian modern menunjukkan protein justru penting untuk tulang, pola makan yang tidak seimbang tetap bisa menjadi masalah. Protein memang membantu membangun jaringan tubuh, tetapi tulang juga membutuhkan kalsium, vitamin D, dan nutrisi lain. Jika konsumsi protein tinggi dilakukan tanpa memperhatikan asupan nutrisi pendukung, kesehatan tulang tetap bisa terdampak.

Berapa Asupan Protein Harian yang Ideal?

Kebutuhan protein harian tidak sama untuk setiap orang. Mengutip Cleveland Clinic, panduan terbaru dari 2025-2030 Dietary Guidelines for Americans merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi sekitar 1,2 hingga 1,6 gram protein per kilogram berat badan per hari. Untuk orang dengan berat 68 kg, misalnya, jumlah konsumsi protein harian sekitar 82-108 gram protein per hari. Bagi orang sehat, angka tersebut umumnya masih aman. Namun, jika Anda memiliki penyakit ginjal, sebaiknya kurangi konsumsi dari rekomendasi panduan tersebut dan konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi agar tidak memperburuk kondisi. Protein memang tetap penting untuk tubuh, tetapi konsumsinya harus seimbang. Jadi, pahami risiko diet tinggi protein sebelum Anda mengikuti tren diet.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Diet Tinggi Protein

Apakah diet tinggi protein aman untuk semua orang? Tidak selalu. Orang dengan penyakit ginjal atau masalah kesehatan tertentu perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai diet tinggi protein.

Berapa lama efek samping diet tinggi protein bisa muncul? Efek samping seperti masalah pencernaan atau kelelahan ginjal bisa muncul dalam beberapa minggu hingga bulan, tergantung pada tingkat kelebihan protein dan kondisi tubuh masing-masing.

Bagaimana cara mengetahui apakah saya kelebihan protein? Gejala kelebihan protein antara lain dehidrasi, bau mulut, sembelit, dan peningkatan kadar urea dalam darah. Jika mengalami gejala ini, konsultasikan dengan dokter.

Apakah protein dari sumber nabati lebih baik daripada hewani? Keduanya memiliki manfaat. Protein nabati biasanya lebih rendah lemak jenuh dan tinggi serat, sementara protein hewani mengandung asam amino lengkap. Kombinasi keduanya direkomendasikan.

Related Reading