Demensia bisa Ditandai dengan 4 Perubahan Kebiasaan Makan Ini
Perubahan Pola Makan yang Patut Diperhatikan pada Lansia
Kabarberita911.com – Perubahan perilaku saat makan pada orang lanjut usia tidak selalu sekadar soal selera yang berubah. Dalam sejumlah keadaan, kebiasaan seperti memilih menu yang makin sederhana, tidak lagi tertarik pada makanan, melewatkan waktu makan, atau sangat menginginkan makanan manis dapat muncul bersamaan dengan gangguan kognitif, termasuk demensia.
Demensia merupakan istilah untuk berbagai kondisi yang memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, mengambil keputusan, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Alzheimer termasuk bentuk yang paling sering dijumpai. Hingga kini belum ada terapi yang menghilangkan demensia, tetapi penanganan dapat membantu memperlambat perkembangan kondisi dan mendukung kualitas hidup pengidap.
Kelupaan memang kerap menjadi gejala yang paling mudah dikenali keluarga. Namun, perubahan yang terlihat saat seseorang memilih, memasak, atau menikmati makanan juga layak mendapat perhatian, terutama bila terjadi terus-menerus dan disertai penurunan kemampuan sehari-hari.
“Sebagai seorang ahli neurologi yang telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari kesehatan otak, salah satu pernyataan paling umum dari keluarga pengidap demensia adalah 'ibu saya mulai makan dengan aneh',” ujar Majid Fotuhi, ahli neurologi di Mind/Brain Institute John Hopkins University.
1. Menu yang disiapkan menjadi semakin sederhana
Seseorang yang sebelumnya senang menyiapkan masakan dengan banyak tahap dapat mulai hanya memilih sajian yang sangat mudah. Perubahan ini dapat terlihat dari berkurangnya variasi menu, enggan membeli bahan tertentu, atau kesulitan mengikuti resep yang dahulu biasa dibuat.
Memasak makanan yang rumit melibatkan beberapa kemampuan sekaligus: menyusun rencana, mengingat kebutuhan bahan, mengatur waktu, berbelanja, serta menyiapkan makanan secara berurutan. Gangguan demensia dapat memengaruhi fungsi-fungsi tersebut.
Joel Salinas, ahli neurologi dari New York University, menjelaskan bahwa menu kompleks membutuhkan perencanaan dan pengorganisasian. Ketika kemampuan itu menurun, seseorang bisa mengalami kesulitan dalam merancang, membeli, dan mengolah makanan yang lebih rumit.
Meski begitu, menu sederhana saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya demensia. Pertimbangkan pula keadaan lain, seperti keterbatasan fisik, kelelahan, perubahan rutinitas, atau tidak adanya bantuan saat menyiapkan makanan.
2. Ketertarikan terhadap makanan berkurang
Tanda lain yang mungkin muncul adalah hilangnya kesenangan terhadap makanan. Orang tersebut dapat makan jauh lebih sedikit, tidak lagi antusias pada hidangan favorit, atau menggambarkan makanan sebagai sesuatu yang hambar dan kurang menarik.
Perubahan pada otak dapat memengaruhi indera penciuman. Karena aroma memiliki peran besar dalam pengalaman mengecap makanan, berkurangnya kemampuan mencium dapat membuat makanan terasa kurang nikmat. Akibatnya, nafsu makan dan minat untuk makan pun bisa menurun.
Bagi keluarga, penting untuk memperhatikan apakah perubahan ini berlangsung konsisten. Catatan sederhana mengenai jenis makanan yang masih dapat diterima, porsi yang dihabiskan, serta perubahan berat badan dapat membantu saat diperlukan evaluasi kesehatan.
3. Tidak ingat kapan harus makan
Gangguan memori dapat membuat seseorang melewatkan sarapan, makan siang, atau makan malam karena tidak menyadari waktu telah berlalu. Sebaliknya, ada pula yang makan berulang kali karena lupa sudah makan sebelumnya.
Demensia juga dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam mengenali rasa lapar dan kenyang. Adam Mednick, seorang ahli neurologi, menyebut kondisi ini membuat penafsiran terhadap sinyal internal tubuh menjadi lebih sulit.
“Demensia mempersulit penafsiran sinyal internal tubuh untuk rasa lapar dan kenyang,” ujar Adam Mednick.
Kerusakan pada bagian otak yang berkaitan dengan nafsu makan dapat menurunkan dorongan untuk mengonsumsi makanan. Pada saat yang sama, persoalan ingatan dapat membuat waktu makan terlewat. Dampaknya tidak selalu sama pada setiap orang: ada yang makan terlalu sedikit, sementara sebagian lainnya justru dapat makan secara berlebihan.
“Hasilnya bisa ke mana saja, menyebabkan makan terlalu sedikit atau dalam beberapa kasus, makan berlebihan,” ujarnya.
Rutinitas makan yang teratur, pengingat waktu, dan pendampingan keluarga dapat membantu memantau kondisi ini. Namun, langkah tersebut bukan pengganti pemeriksaan bila perubahan tampak menetap atau semakin berat.
4. Keinginan kuat terhadap makanan manis
Hasrat yang mendadak dan terus-menerus untuk menikmati makanan atau minuman manis juga termasuk perubahan yang sering dilaporkan. Mednick menyebut kecenderungan tersebut sebagai salah satu gejala yang kerap terlihat pada demensia.
Perubahan ini diduga berkaitan dengan gangguan pada sirkuit otak yang mengendalikan impuls. Ketertarikan berlebihan terhadap rasa manis lebih sering dikaitkan dengan demensia frontotemporal atau FTD, yang memengaruhi lobus frontal dan temporal otak.
“Lobus frontal biasanya membantu kita mengatur impuls dan pilihan makanan. Saat rusak, pengaturan itu melemah, dan sering kali muncul ketertarikan yang kuat terhadap makanan manis,” jelasnya.
FTD dapat memunculkan perubahan perilaku karena area otak yang terdampak berperan dalam pengendalian diri, pengambilan keputusan, dan respons sosial. Karena itu, perubahan pilihan makanan perlu dipahami bersama perubahan perilaku atau fungsi lain yang mungkin terjadi.
Perubahan Perlu Dinilai Bersama Gejala Lain
Keempat kebiasaan tersebut bukan alat diagnosis dan tidak berarti setiap lansia yang mengalaminya pasti mengalami demensia. Fotuhi menekankan bahwa perubahan pola makan tetap membutuhkan penilaian lebih lanjut, khususnya bila tidak berdiri sendiri.
Apabila seseorang hanya memilih makanan berbeda tetapi kemampuan mengingat, menilai situasi, dan beraktivitas masih terjaga, kekhawatiran tidak perlu dibesarkan. Perhatian lebih diperlukan ketika perubahan makan muncul bersama penurunan fungsi harian, masalah ingatan, atau kesulitan membuat keputusan.
“Inilah mengapa perubahan perilaku makan dan berkelanjutan memerlukan evaluasi medis yang tepat, bukan sekadar tebakan,” pungkas Fotuhi.
Keluarga dapat memulai dengan mengamati perubahan secara tenang dan mendokumentasikan pola yang muncul. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan menilai apakah perubahan itu berkaitan dengan gangguan kognitif, kondisi kesehatan lain, obat-obatan, atau faktor kehidupan sehari-hari.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Demensia bisa Ditandai dengan 4 Perubahan?Demensia bisa Ditandai dengan 4 Perubahan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Demensia bisa Ditandai dengan 4 Perubahan matter?Demensia bisa Ditandai dengan 4 Perubahan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.