Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Coba-coba Slow Jogging, Lari ‘Slay’ yang Ternyata Tak Mudah-mudah Amat

Published Agustus 7, 2026 · Updated Agustus 7, 2026 · By Elizabeth Wilson - kabarberita911.com

Foto : Elizabeth Wilson - kabarberita911.com

Slow Jogging: Aktivitas Lari Santai yang Menantang di Balik Kesederhanaannya

Kabarberita911.com – Memiliki filosofi untuk tidak terburu-buru, slow jogging menawarkan pendekatan berbeda terhadap olahraga lari. Konsep ini dikembangkan oleh Hiroaki Tanaka, seorang fisiolog dari Jepang, yang menyebutnya sebagai niko niko pace. Menurut definisinya, olahraga ini dilakukan dengan kecepatan yang memungkinkan pelari tetap bisa tersenyum dan berbicara santai. Publikasi dalam Japanese Journal of Sport Nutrition menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah meningkatkan kebugaran aerobik melalui intensitas rendah yang lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.

Pengalaman Pertama Mencoba

Pada akhir Juli lalu, saya memutuskan untuk mencoba tren yang sedang digemari banyak orang ini. Suasana Jakarta di pagi hari masih terasa sejuk, dengan cahaya matahari yang perlahan menerangi langit. Setelah melakukan pemanasan singkat selama lima menit, saya memulai aktivitas dari rumah. Awalnya hanya berjalan kaki biasa, kemudian secara bertahap mengangkat kaki dengan gerakan tipis-tipis untuk melakukan slow jogging.

Saya tidak terlalu memikirkan teknik yang tepat. Yang penting adalah menjaga langkah tetap kecil. Lima menit pertama terasa nyaman. Pola pernapasan tetap stabil dan detak jantung tidak terlalu kencang. Berbeda dengan lari biasa yang kadang membuat jantung terasa berdebar keras, slow jogging justru menjaga ritme yang lebih tenang. Aktivitas ini cocok untuk pemula maupun mereka yang ingin kembali berolahraga setelah lama tidak aktif.

"Belum juga 15 menit, betis sudah menangis."

Kalimat itulah yang muncul di benak saya saat merasakan ketidaknyamanan. Faktanya, betis memang mulai protes bahkan sebelum genap mencapai menit ke-14. Tiba-tiba ada sensasi ikatan kencang di area betis, padahal saya tidak bergerak terlalu lincah. Justru sebaliknya, saya berusaha mempertahankan gerakan pelan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terlihat mudah, slow jogging membutuhkan adaptasi otot yang cukup signifikan.

Tantangan Fisik dan Mental

Selain ketidaknyamanan pada betis, ada aspek mental yang juga perlu dihadapi. Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa orang-orang yang berjalan cepat bisa menyalip kita sesekali. Beberapa kali saya tergoda untuk mempercepat langkah, bukan karena tubuh masih sanggup, melainkan karena malu terlihat berlari begitu pelan. Namun, inilah esensi dari slow jogging: menghilangkan ego soal kecepatan.

Beberapa orang mungkin memperhatikan dan berpikir dalam hati, "Lari kok 'slay' betul?" Namun, inilah esensi dari slow jogging: menghilangkan ego soal kecepatan. Yang terpenting adalah tubuh bergerak pada intensitas yang bisa dipertahankan. Aktivitas ini juga membantu mengurangi risiko cedera karena tidak memberikan tekanan berlebihan pada sendi dan otot.

Penjelasan Ilmiah di Balik Ketidaknyamanan

Keluhan mengenai betis yang cepat pegal saat mencoba slow jogging bukanlah hal yang aneh. Banyak orang mengalaminya, termasuk saya. Sebuah studi dalam Clinical Biomechanics memberikan penjelasan ilmiahnya. Dalam slow jogging, tubuh melakukan langkah yang lebih pendek. Namun, karena langkah pendek tersebut, frekuensi langkah menjadi lebih tinggi.

Langkah pendek dengan frekuensi lebih tinggi membuat otot betis dan pergelangan kaki bekerja lebih aktif. Belum lagi metode pendaratan yang berbeda. Pelari dianjurkan mendarat dengan bagian tengah atau depan telapak kaki, bukan menghentakkan tumit seperti pada joging biasa. Ulasan di Scientific Report menyebutkan bahwa pendaratan seperti itu memang membuat otot betis dan tendon Achilles bekerja lebih keras untuk menyerap benturan.

Karena betis yang mulai tidak kuat, saya memutuskan untuk beralih ke berjalan kaki cepat. Rasanya lebih enak meski betis masih terasa terikat selama beberapa belas menit ke depan. Perbedaannya jelas terlihat. Saat joging biasa, saya biasanya berhenti karena napas mulai berat. Kali ini, napas masih terasa nyaman, tapi baru belasan menit, betis sudah terasa seperti diikat kencang.

Tips untuk Pemula

Bagi Anda yang ingin mencoba slow jogging, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pastikan Anda menggunakan sepatu yang nyaman dan mendukung. Kedua, mulailah dengan durasi yang singkat, sekitar 10-15 menit, lalu tingkatkan secara bertahap. Ketiga, jangan lupa melakukan pemanasan sebelum memulai dan pendinginan setelah selesai. Keempat, dengarkan tubuh Anda dan jangan memaksakan diri jika merasa tidak nyaman.

Pengalaman ini membuktikan bahwa slow jogging memang tidak semudah kelihatannya. Di balik kesantaiannya, ada tantangan fisik yang cukup signifikan, terutama bagi pemula yang baru pertama kali mencoba. Namun, dengan konsistensi dan kesabaran, aktivitas ini bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat Anda.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Slow Jogging

Apakah slow jogging cocok untuk semua usia? Ya, slow jogging cocok untuk semua usia karena intensitasnya yang rendah dan mudah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.

Berapa kali seminggu sebaiknya melakukan slow jogging? Disarankan untuk melakukan slow jogging minimal 3-4 kali seminggu agar tubuh mendapatkan manfaat optimal tanpa risiko cedera.

Apakah slow jogging bisa membantu menurunkan berat badan? Tentu saja. Meskipun intensitasnya rendah, slow jogging tetap membakar kalori dan dapat membantu penurunan berat badan jika dilakukan secara konsisten.

Bagaimana cara mengetahui kecepatan yang tepat untuk slow jogging? Kecepatan yang tepat adalah ketika Anda masih bisa berbicara tanpa terengah-engah. Ini disebut juga sebagai niko niko pace.

Apakah perlu melakukan stretching setelah slow jogging? Ya, stretching setelah aktivitas penting untuk mencegah kram dan membantu pemulihan otot. Fokus pada area betis, paha, dan pergelangan kaki.

Related Reading