Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Review Film: Kuasa Gelap – Perjanjian Darah

Published Oktober 11, 2026 · Updated Oktober 11, 2026 · By Elizabeth Wilson - kabarberita911.com

Foto : Elizabeth Wilson - kabarberita911.com

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Menguatkan Eksorsisme, tetapi Tersandung Teknis

Kabarberita911.com – Melanjutkan cerita dari film sebelumnya, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah mengambil langkah yang lebih tegas untuk menempatkan ritual eksorsisme sebagai pusat konflik. Perubahan fokus ini menjadi perkembangan penting bagi sekuel yang kembali bergerak di wilayah horor religius Katolik, dengan Romo Rendra yang diperankan Lukman Sardi menjadi tokoh utama persoalan kali ini.

Pada film terdahulu, beban emosional Romo Thomas, karakter Jerome Kurnia, terasa lebih dominan. Di sekuel ini, porsi persoalan pribadi tetap hadir, tetapi tidak lagi menenggelamkan ancaman utama. Andri Cahyadi dan Robert Ronny menyusun kisah dengan upaya menyeimbangkan pergulatan batin para romo dengan penanganan kasus kerasukan yang mereka hadapi.

Keputusan tersebut layak diapresiasi. Film ini tidak sekadar memakai atribut keagamaan sebagai hiasan untuk membangun ketegangan, melainkan berusaha memberi ruang yang lebih besar bagi materi eksorsisme dan ajaran Katolik. Pendekatan itu membuatnya memiliki warna berbeda dibanding banyak horor lokal yang lazim menempatkan unsur agama tertentu sebagai senjata utama menghadapi entitas gaib.

Nuansa Drama Katolik yang Lebih Kuat

Rizal Mantovani, yang mengarahkan film ini, turut membawa pendekatan yang cenderung serius pada penyampaian unsur gerejawi. Dialog serta struktur peristiwanya terasa seperti dibangun dengan perhatian pada batas-batas materi eksorsisme. Hasilnya mungkin terasa tidak biasa bagi penonton yang datang semata-mata untuk mencari adegan menegangkan.

Bagi sebagian penonton awam, film ini dapat terasa lebih dekat dengan drama Katolik ketimbang horor murni. Namun bagi penonton yang mengharapkan konteks gereja tampil lebih kental, pilihan tersebut justru dapat menjadi daya tarik. Horor Indonesia sendiri telah lama memperlihatkan hubungan kuat antara ketakutan supernatural dan keyakinan religius. Karena itu, usaha membangun kerangka Katolik secara lebih menonjol merupakan pilihan yang sah dalam genre ini.

Andri Cahyadi dan Robert Ronny cukup berhasil menjaga bobot tema keagamaan sambil tetap memasukkan tuntutan hiburan komersial. Ketegangan ritual, ancaman gaib, dan drama personal berjalan berdampingan. Film ini tampak ingin menyuguhkan eskalasi yang lebih besar daripada pendahulunya, terutama pada momen-momen eksorsisme yang dirancang sebagai puncak cerita.

Poltergeist yang Lebih Agresif

Perbedaan paling mudah terlihat hadir melalui peningkatan aksi poltergeist. Jika film sebelumnya masih cenderung menahan diri, sekuel ini jauh lebih berani memperlihatkan kekacauan fisik di dalam ruang eksorsisme. Jerome Kurnia beberapa kali harus terpental, terbanting, dan menghantam furnitur dalam adegan-adegan tersebut.

Meski energi adegannya terasa lebih besar, penggarapannya belum selalu meyakinkan. Terlalu banyak perhatian diarahkan pada tubuh yang terlempar tanpa penyesuaian yang memadai terhadap kondisi ruang. Kamar tempat Daniel, yang dimainkan Venly Arauna, dirawat justru tampak terlalu penuh perabot untuk seorang pasien dengan kasus seberat itu.

Kontinuitas visual juga menjadi masalah. Lemari bisa roboh dan seorang romo dapat terhempas hingga pingsan, tetapi benda-benda kecil di area sekitar tempat tidur tetap tertata rapi. Ketidakkonsistenan semacam ini mengurangi rasa bahaya yang seharusnya dibangun oleh gangguan poltergeist. Catatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyutradaraan Rizal Mantovani, tetapi juga patut diperhatikan dalam rancangan produksi Alfi Syahri.

Ketegangan yang Terlalu Diterangkan

Film ini beberapa kali memilih cara yang terlalu gamblang dalam menyampaikan suasana. Saat suhu ruangan digambarkan mendadak meningkat, misalnya, kamera memperlihatkan angka pada termometer ruangan sekaligus keringat tipis pada wajah Jerome. Informasi itu sebenarnya dapat disampaikan dengan gestur, riasan yang lebih kuat, atau reaksi fisik para tokoh.

Pendekatan yang lebih subtil mungkin akan membuat atmosfer terasa lebih mencekam. Gerakan tangan, napas yang memburu, pakaian yang semakin lembap, atau ekspresi tidak nyaman dari Lukman Sardi dan Jerome Kurnia dapat bekerja sebagai petunjuk visual tanpa harus menerangkan keadaan secara langsung. Horor sering kali lebih efektif ketika penonton diberi ruang untuk menangkap ancaman melalui detail-detail kecil.

Meski demikian, terlihat jelas bahwa produksi ini ingin menghadirkan ritual puncak yang lebih besar dan lebih menyeramkan dibanding film pertama. Prostetik tebal pada Venly Arauna serta pemeran penggantinya membantu memperkuat kesan tubuh yang telah dipengaruhi kekuatan jahat. Bagian tata rias ini menjadi salah satu unsur yang paling tampak mendapat perhatian.

Gagasan Rephaim yang Belum Maksimal

Di balik sejumlah kekurangannya, film ini membawa gagasan yang cukup menarik melalui sosok demit Rephaim. Entitas tersebut ditempatkan di luar Seven Princes of Hell beserta turunannya, lalu dipertemukan dengan elemen ilmu hitam lokal. Konsep ini menjanjikan karena membuka kemungkinan benturan antara praktik eksorsisme Katolik dan bentuk kuasa gelap yang berada di luar pola ancaman yang lazim.

Sayangnya, potensi tersebut tidak sepenuhnya terwujud akibat kualitas efek visual. Wujud Rephaim belum mampu tampil meyakinkan dan justru terlihat terlalu digital, seperti hasil komputerisasi yang belum mencapai penyelesaian akhir. Adegan tenggelam pada bagian awal pun memberi kesan serupa dan tidak cukup membantu membangun kepercayaan penonton terhadap dunia filmnya.

Pemakaian filter pada percakapan Romo Rendra dan Suster Aloysia, karakter Lydia Kandou, di dermaga saat matahari terbenam juga terasa kurang menyatu dengan keseluruhan suasana. Alih-alih memperdalam nuansa emosional, pilihan visual itu berisiko membuat adegan terlihat terlalu dibuat-buat.

Robert Ronny, yang juga bertugas sebagai produser eksekutif, menghadapi tantangan untuk menaikkan standar produksi pada aspek-aspek yang masih menjadi kelemahan sejak film pertama. Kekurangan teknis mungkin masih lebih mudah dimaklumi pada sebuah awal, tetapi sekuel menghadirkan harapan yang lebih tinggi. Kuasa Gelap: Perjanjian Darah telah menunjukkan kemajuan dalam fokus cerita dan keberanian membangun eksorsisme, namun kualitas visual serta ketelitian detail produksi masih perlu diperkuat agar gagasan besarnya benar-benar terasa sepadan dengan ambisinya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Review Film?

Review Film is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Review Film matter?

Review Film matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.