Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

AirNav Indonesia-Telkom University Perkuat Riset dan Pengembangan AI

Published Oktober 9, 2026 · Updated Oktober 9, 2026 · By Anthony Martinez - kabarberita911.com

Foto : Anthony Martinez - kabarberita911.com

AirNav Indonesia dan Telkom University Perluas Kolaborasi AI untuk Penerbangan

Kabarberita911.com – AirNav Indonesia memperkuat pemanfaatan kecerdasan artifisial dan keamanan siber melalui kemitraan riset bersama Telkom University. Kesepakatan ini diarahkan untuk menghadirkan teknologi yang membantu pekerjaan operasional penerbangan, dengan keselamatan tetap menjadi prinsip utama dalam setiap pengambilan keputusan.

Perjanjian kerja sama mengenai optimalisasi laboratorium dan penelitian bersama untuk pengembangan AI serta keamanan siber ditandatangani di Jakarta pada Kamis, 8 Oktober, dalam rangkaian Summit on Advancement in Technology, Research, Industry and Academia atau SATRIA 2026.

Pada kesempatan yang sama, Telkom University memberikan penghargaan kepada AirNav Indonesia atas dukungan dan kontribusinya dalam kemitraan riset, teknologi, dan inovasi, terutama pada bidang kecerdasan artifisial dan keamanan siber. Penghargaan itu diterima Direktur Keselamatan, Keamanan dan Standardisasi AirNav Indonesia Capt. Nurcahyo Utomo yang mewakili perusahaan.

AI sebagai pendukung keputusan manusia

Direktur Teknik AirNav Indonesia Zainal Arifin Harahap, yang turut menjadi panelis dalam SATRIA 2026, menekankan bahwa penerapan teknologi di sektor penerbangan harus selalu ditempatkan dalam kerangka keselamatan. Efisiensi dan keberlanjutan penting untuk diperkuat, tetapi tidak dapat menggeser tanggung jawab manusia pada keputusan yang berdampak langsung terhadap keselamatan penerbangan.

“Karena itu, kami melihat AI sebagai perangkat pendukung untuk membantu memudahkan dan mempercepat pekerjaan. Tetapi, posisi AI bukan untuk menggantikan manusia dalam pengambilan keputusan, khususnya yang berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan,” ujar Zainal.

Pendekatan tersebut menempatkan AI sebagai alat bantu untuk mengolah proses yang rumit, berulang, dan membutuhkan waktu panjang. Dalam lingkungan layanan navigasi penerbangan, hasil kerja sistem tetap perlu melewati pemeriksaan pihak yang berwenang sebelum digunakan untuk kebutuhan operasional.

Kerja sama terbaru ini merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman AirNav Indonesia dan Telkom University yang telah ditandatangani pada 2024. Cakupan kolaborasinya meliputi pemanfaatan laboratorium, riset dan pengembangan bersama, penerapan hasil penelitian, hingga pertukaran pengetahuan, keahlian, serta informasi.

Kedua pihak juga membuka ruang untuk menggunakan hasil pengembangan sesuai kebutuhan masing-masing. Dengan model seperti ini, penelitian tidak berhenti pada tahap konsep atau demonstrasi teknologi, melainkan dapat diuji manfaatnya dalam kebutuhan kerja yang spesifik.

“Kami tidak ingin teknologi dikembangkan hanya karena teknologinya ada. Yang paling penting adalah apakah ini memang dibutuhkan dan bisa membantu pekerjaan kita. Itu yang kita lihat dalam kerja sama dengan Telkom University,” kata Zainal.

NOTAM AI Generator dan pengaturan personel ATC

Salah satu inisiatif yang telah dikembangkan dalam kemitraan ini adalah prototipe NOTAM AI Generator. Pengembangan teknologi tersebut dimulai pada 2024 dan memasuki tahap soft launching pada 2025.

NOTAM merupakan informasi penting bagi penerbang dan pihak terkait mengenai kondisi, perubahan, atau hal lain yang dapat memengaruhi operasi penerbangan. Dalam pemanfaatan AI yang sedang dikembangkan, proses pembuatan NOTAM dapat dilakukan dalam sekitar satu menit. Namun, hasilnya tetap harus diperiksa oleh validator sebelum digunakan.

Penggunaan AI juga disiapkan untuk mendukung penjadwalan dan pengaturan tugas personel air traffic control atau ATC. Pengelolaan jadwal personel menjadi aspek penting karena pekerjaan pengatur lalu lintas udara memiliki ketentuan waktu kerja dan jeda istirahat yang harus diperhatikan.

“Selain menjajaki pengimplementasian NOTAM AI, saat ini kami juga sedang menyusun aplikasi berbasis AI untuk penjadwalan dan pengaturan tugas personel ATC, di mana ATC tidak boleh bekerja secara nonstop 2 jam. Kemudian, jarak antar shift untuk satu orang tidak boleh kurang dari 15 jam. Nah, teknologi AI ini akan kami manfaatkan untuk membuat pengaturan tersebut. Karena, dengan banyaknya jumlah personel, akan cukup sulit dan memakan waktu jika dilakukan secara manual,” kata Zainal.

Sistem penjadwalan otomatis berbasis teknologi digital tersebut dirancang untuk membantu pengaturan staf ATC dalam skala yang lebih kompleks. AI dapat membantu menyusun pilihan jadwal berdasarkan ketentuan operasional, sementara keputusan akhir yang berhubungan dengan keselamatan tetap berada di tangan manusia.

Pemanfaatan teknologi untuk pekerjaan administratif dan pengolahan data memberi peluang bagi tenaga profesional untuk lebih fokus pada tugas yang membutuhkan penilaian, pengawasan, dan tanggung jawab langsung. Bagi industri penerbangan, prinsip ini penting karena teknologi perlu meningkatkan kualitas proses tanpa mengurangi pengendalian manusia.

Riset kampus untuk kebutuhan industri

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Faudzan Adziman, menyambut keterlibatan perguruan tinggi dalam membantu menjawab persoalan yang dihadapi industri. Ia menilai penelitian perlu dimulai dari masalah nyata dan diarahkan kepada solusi yang memberikan manfaat.

“Kuncinya, kalau kita tidak tahu apa yang akan dipecahkan, jangan melakukan riset. Pada awalnya AirNav berani mengambil risiko karena melibatkan kampus. Tetapi, post benefit-nya tinggi sekali. Model kolaborasi seperti ini yang perlu terus didorong untuk memperkuat kedaulatan dan daya saing teknologi Indonesia,” ujar Faudzan.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga fokus kerja sama pada persoalan yang benar-benar membutuhkan solusi. Ketika kebutuhan industri dipahami sejak awal, proses riset dapat berkembang dari penyelesaian masalah tertentu menuju kerja sama yang lebih luas melalui kepercayaan antarpihak.

Kolaborasi AirNav Indonesia dan Telkom University menunjukkan arah pengembangan AI yang berorientasi pada kebutuhan operasional. Dari penerbitan NOTAM hingga penyusunan jadwal personel ATC, teknologi diposisikan untuk membantu mempercepat proses sekaligus mendukung kepatuhan terhadap aturan kerja dan keselamatan penerbangan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is AirNav Indonesia Telkom University Perkuat Riset?

AirNav Indonesia Telkom University Perkuat Riset is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does AirNav Indonesia Telkom University Perkuat Riset matter?

AirNav Indonesia Telkom University Perkuat Riset matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.