Berita Sepakbola

Historic Moment: Tuchel dan Misi Hapus ’60 Tahun Penderitaan’ Inggris di Piala Dunia

Tuchel dan Misi Hapus ’60 Tahun Penderitaan’ Inggris di Piala Dunia

Historic Moment – Sudah enam dekade, melintasi berbagai generasi, dan satu penderitaan yang terus berlanjut dalam sejarah Piala Dunia. Sejak Bobby Moore mengangkat trofi Jules Rimet di Wembley pada 30 Juli 1966, Inggris tak pernah lagi mengakhiri turnamen sebagai juara. Kala itu, Geoff Hurst mencetak hattrick bersejarah untuk menggulung Jerman Barat 4-2. Di hadapan 97 ribu penonton, Inggris berdiri sebagai raja. Namun, momen itu juga mengandung kejanggalan. Gol ketiga Hurst di babak tambahan waktu terjadi sebelum bola benar-benar melewati garis gawang. Wasit tetap mengesahkannya setelah berkonsultasi dengan hakim garis. Lebih mengejutkan lagi, trofi pada edisi 1966 sempat dicuri sebelum kompetisi dimulai. Piala Jules Rimet kembali setelah ditemukan seekor anjing bernama Pickles di semak-semak London Selatan.

Kemenangan 1966 menjadi pencapaian terakhir Inggris di ajang bergengsi tersebut. Sejak saat itu, tim berjuluk The Three Lions datang ke 14 edisi Piala Dunia berikutnya, tetapi 14 kali pula mereka pulang dengan tangan kosong. Bahkan, selalu gagal memasuki partai puncak. Lagu ‘It’s Coming Home’ yang sebelumnya menggambarkan harapan kemenangan, kini menjadi nyanyian pahit di setiap pertandingan. FA mempercayai Gareth Southgate di dua edisi terakhir, namun kenyataan tetap menyedihkan. Pendekatan yang santun dan sabar tak cukup untuk meruntuhkan tembok final. Maka, untuk pertama kalinya sejak era modern, Inggris menyerahkan nasib tim kepada pelatih asal Jerman.

Thomas Tuchel resmi memegang kendali. Pemilihan ini bukan tanpa alasan. Di tengah musim, Tuchel pernah mengambil alih Chelsea dan langsung membawa pulang trofi Liga Champions 2021. FA berharap magis pelatih itu bisa diwujudkan dalam ajang Piala Dunia 2026. Di fase kualifikasi Zona Eropa, Inggris tampil tanpa kebobolan sepanjang grup. Namun, keberhasilan itu diimbangi dengan kekalahan dari Jepang di laga persahabatan. Kekalahan itu memunculkan pertanyaan: seberapa solid tim tersebut ketika dihadapkan pada tantangan sebenar-benarnya?

Revolusi Pemain dan Strategi Baru

Tuchel memutuskan merombak skuad Piala Dunia dengan memangkas sejumlah pemain berpengalaman. Phil Foden dan Cole Palmer tidak masuk dalam daftar pemain yang dipanggil ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Keduanya dianggap kurang cocok dengan skema taktis yang disiplin. Trent Alexander-Arnold juga ditinggal, karena umpan visionernya dinilai tidak lagi efektif dalam mengimbangi kelemahan bertahan yang sering dijadikan sasaran eksploitasi lawan. Harry Maguire dan Luke Shaw juga tak masuk skuad pilihan, lantaran cedera berulang dan penurunan performa akibat usia yang tak lagi muda.

Dalam barisan pertahanan, nama John Stones dipercayai lebih baik ketimbang Maguire, meskipun pemain berusia 32 tahun itu hanya memainkan 18 pertandingan sepanjang musim 2025/2026. Tuchel juga memilih memanggil sejumlah pemain baru, seperti Jarell Quansah, Tino Livramento, Marc Guehi, Anthony Gordon, dan Noni Madueke. Penampilan mereka selama beberapa waktu terakhir memicu kepercayaan pelatih. Di sisi lain, pemain veteran seperti Marcus Rashford diundang kembali. Kecepatan dan naluri serangan penyerang Barcelona itu dianggap sebagai kartu yang sulit dibaca lawan.

Semua rencana terpusat pada Harry Kane. Kedekatan sang bomber dengan Tuchel yang sempat terjalin di Bayern Munchen membuat Kane menjadi jenderal kepercayaan sang pelatih di lapangan. Di lini tengah, Jude Bellingham dan Declan Rice akan menjadi motor penggerak. Bellingham berpeluang memecahkan rekor Wayne Rooney sebagai pemain Inggris termuda yang mencapai 50 caps di turnamen besar. Di ambang rekor bersejarah, bintang Real Madrid itu diyakini dapat tampil mengejutkan setelah debut di Qatar 2022.

Kutukan Psikologis dan Tekanan Media

Mungkin, taktik bukan ujian terberat Tuchel. Selalu ada tekanan dari publik. Di Inggris, batas antara pahlawan dan musuh publik hanya berjarak satu kegagalan penalti. Artinya, mengelola tekanan psikologis dari media patut jadi prioritas. Kutukan 60 tahun bukan cuma soal statistik. Ada beban psikologis yang turun-temurun, dan itu tak bisa diperbaiki lewat sesi latihan. Peta turnamen juga tidak ramah. Prancis, Argentina, dan Brasil bukan lawan yang bisa dikalahkan hanya dengan disiplin taktis, tanpa kedalaman materi skuad.

Dengan kompetisi yang semakin ketat, Tuchel harus menghadapi tantangan dua kali lipat. Selain mengatur permainan, ia juga perlu menenangkan mental pemain yang terbiasa dengan kekecewaan. Di baliknya, ada harapan besar untuk memutus siklus negatif yang berlangsung sejak 1966. Jika berhasil, Inggris akan menjadi kisah baru dalam sejarah sepak bola. Jika gagal, mereka kembali menjadi penonton di final. Tuchel harus memastikan bahwa kisah 1966 tidak akan terulang lagi.

‘It’s Coming Home’ yang dulu adalah lagu penuh semangat, kini berubah menjadi nyanyian yang menggambarkan kekecewaan. Ini bukan sekadar ambisi, tetapi tekanan psikologis yang menumpuk selama hampir satu abad.

Kualifikasi menuju Piala Dunia 2026 menjadi uji coba pertama. Inggris lolos tanpa kebobolan, menunjukkan kekuatan taktis yang terkendali. Namun, kekalahan dari Jepang mengingatkan bahwa pertandingan persahabatan belum tentu mencerminkan kesiapan di fase lebih berat. Tuchel harus menjaga konsistensi ini, sambil membangun identitas tim yang berbeda dari masa lalu. Jika semua rencana berjalan lancar, The Three Lions bisa menyudahi 60 tahun penderitaan mereka dengan penampilan yang membanggakan. Namun, jalan menuju kesuksesan tidak akan mudah.

Leave a Comment