Cerita Para Pengais Rezeki di Blok M
Main Agenda – Jumat, 22 Mei 2026. Malam itu, Blok M menjadi tempat berkumpulnya ribuan pengunjung. Karena hari ini adalah hari Sabtu, yang dianggap sebagai ‘malam Minggu kecil’ bagi sebagian warga Jakarta. Di kawasan ini, tidak hanya ada pusat perbelanjaan dan kafe yang menawarkan suasana modern, tetapi juga cerita-cerita dari para pengais rezeki yang menjual dagangan sederhana. Main Agenda menyoroti kehidupan mereka yang menjadi bagian integral dari keberadaan Blok M. Warga Jakarta, baik yang menghabiskan waktu bersama keluarga maupun yang sibuk menyelesaikan pekerjaan, kerap melihat pemandangan yang tak pernah lekang oleh perubahan waktu.
Perjalanan Seorang Pengais Rezeki
Satu jam sebelum adzan Zuhur, Sunardi duduk di depan dagangannya dengan harapan menggantung di udara. Sebilah bambu yang diikat tali kuning menjadi tumpukan sederhana, di atasnya berdiri kaleng bekas kerupuk, semprong, dan bawang yang disusun rapi. Setiap hari, ia menempuh jarak puluhan kilometer dari Cengkareng ke Blok M, hanya untuk menjual barang-barang yang sederhana namun menjadi kebutuhan warga sekitar. Meski perjalanan penuh dengan kelelahan, harapan untuk menopang keluarga tetap menjadi penyemangat utamanya. Main Agenda mengungkap bagaimana perjuangan ini tidak hanya tentang mendapatkan uang, tapi juga tentang bertahan dalam kehidupan yang terus bergerak cepat.
Ruang Lingkup Tumbuh Kembang Blok M
Di perempatan jalan belakang Blok M Square, Yohana menjajakan minuman kemasan dengan tangan lincah. Kemasan kopi diiris dengan cepat, lalu dituangkan ke dalam gelas plastik. Panas air mendidih mengubahnya menjadi minuman siap diminum. Di samping dagangannya, buket bunga terletak rapi, terbungkus koran dan plastik. Beberapa di antaranya dihiasi tulisan ‘C’est la Vie’ dalam bahasa Prancis, sebagai pengingat akan nostalgia masa lalu. Bunga-bunga itu ditempatkan dalam ember air agar tetap segar, mencerminkan bagaimana kehidupan di Blok M tetap memadukan tradisi dengan modernitas. Main Agenda menyoroti bagaimana keberagaman ini menciptakan ekosistem sosial yang unik.
“Ada yang minta bikinin ‘bu bikinin dong yang Rp25 ribu, Rp10 ribu’, ibu bikinin,” ucap Yohana sambil tersenyum.
Raynata mengingat kembali 12 tahun lalu. Saat itu, Blok M masih berbeda jauh dari keadaan kini. Dulu, Blok M Square lebih dikenal sebagai jalur ke Terminal, bukan sebagai pusat kafe atau makanan viral. Ia teringat saat masih duduk di SMAN 6 Jakarta, dengan seragam abu-abu menghiasi tubuhnya, dan Blok M hanyalah tempat melewati saat ingin mencicipi makanan Jepang asli. Main Agenda melacak perjalanan waktu ini, menunjukkan bagaimana transformasi kawasan terus berjalan, tetapi tidak menghilangkan warisan yang dulu menghiasi ruang ini.
Dulu, akses ke Blok M terbatas. MRT Jakarta belum ada, jalan layang CSW juga belum selesai. Kini, kemudahan transportasi umum membuat kawasan ini berkembang pesat. Raynata meninggalkan sekolah pada 2017, pindah ke Jatinangor, dan tak lagi menyambangi area tersebut setiap hari. Perubahan Blok M, baginya, terasa seperti kisah yang diukir dari awal, menggambarkan bagaimana warga yang tinggal di sekitarnya harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terus berjalan. Main Agenda menyoroti betapa pentingnya peran para pengais rezeki dalam menjaga keseimbangan antara modernitas dan kesederhanaan.
Blok M tetap memancarkan kehidupan, meski dalam bentuk berbeda. Dari pengais rezeki yang berharap menopang keluarga hingga penjaja bunga yang menyentuh rasa nostalgia, di antara kepadatan jalan dan hiruk-pikuk pasar, ada cerita-cerita yang terus tumbuh, seperti harapan yang tak pernah berhenti mekar. Main Agenda menekankan bahwa kawasan ini bukan hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga menjadi pemandangan kehidupan yang dinamis, di mana setiap individu memiliki peran tersendiri dalam menyusun narasi bersama. Dengan keberagaman aktivitas dan kisah yang tidak pernah hilang, Blok M terus menjadi simbol keberlanjutan dalam ruang urban.
