Main Agenda: Eks Presiden Soekarno Nyaris Kena Tembak Saat Salat Iduladha
Main Agenda – Peristiwa yang menjadi main agenda sejarah terjadi pada 14 Mei 1962, hari Iduladha 10 Zulhijah 1381 H. Saat itu, Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia, sedang menjalani salat di Lapangan Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam antrean jemaah, terdengar suara tembakan senapan yang memicu kepanikan di tengah kerumunan. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keamanan dan kesadaran situasi saat lembaga pemerintah masih dalam fase awal perjuangan kemerdekaan.
Kejadian nyaris tembak yang terjadi pada main agenda tersebut diungkapkan dalam buku Detik-detik Paling Menegangkan karya Moehammad Goenawan. Buku ini menyebutkan bahwa insiden memulai saat jemaah melakukan gerakan rukuk. Bunyi peluru mengguncang suasana, membuat orang-orang berhamburan. Zainul Arifin, Ketua DPRGR, menjadi korban pertama, sementara pengawal Soekarno, Amoen dan Soesilo, melindungi sang presiden dengan tulus.
Kisah Pengawal yang Berani
“Saat diperiksa, penembak mengaku melihat Bung Karno yang dibidiknya ada dua orang. Maka bingunglah ia hendak menembak yang mana,”
kata Maulwi Saelan, Wakil Komandan Tjakrabirawa, dalam bukunya Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66. Penulis juga pernah menjabat sebagai kiper Timnas Indonesia di Olimpiade ke-16 tahun 1956 di Melbourne, Australia, saat menghadapi Timnas Uni Sovyet.
Peristiwa ini menjadi bukti betapa rentannya keamanan di masa awal republik. Selain menyelamatkan Soekarno, pengawal juga menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Mereka mampu mengambil keputusan cepat di tengah kekacauan, menunjukkan pentingnya pelatihan dan kesiapan pihak keamanan. Main agenda yang menegangkan ini juga menggambarkan bagaimana wajah kekuasaan dan perjuangan kemerdekaan bisa terancam dalam detik-detik yang singkat.
Awal Pembentukan Tjakrabirawa
Insiden 14 Mei 1962 menjadi momentum penting dalam pembentukan Resimen Kawal Khusus Tjakrabirawa, unit pengamanan yang dibentuk atas usulan Menteri Pertahanan Abdul Haris Nasution. Menurut catatan buku Maulwi Saelan, kejadian ini memicu perubahan arah dalam karier sang penulis. Ia dipindahkan dari Makassar ke Jakarta untuk menjabat sebagai komandan unit tersebut, yang bertugas melindungi presiden dan keluarga dengan lebih ketat.
Nama Tjakrabirawa diambil dari senjata tokoh pewayangan Kresna, yang dalam bahasa Sansekerta berarti “lingkaran dahsyat.” Unit ini mencakup prajurit TNI dari empat angkatan: darat, laut, udara, dan kepolisian. Main agenda kejadian Iduladha tersebut menunjukkan bagaimana keamanan pribadi presiden dibangun melalui pengalaman langsung dan kebutuhan situasional.
Dalam konteks sejarah, insiden nyaris tembak pada saat salat Iduladha menjadi simbol ketegangan politik dan masyarakat. Meski kejadian tersebut tidak mengakibatkan kerugian serius, ia meninggalkan jejak yang tak terlupakan. Main agenda ini juga mengingatkan betapa sensitifnya situasi nasional saat itu, di mana kekuasaan masih dalam proses penyempurnaan.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kejadian ini memperkuat kebutuhan pembentukan unit pengamanan khusus. Tjakrabirawa tidak hanya diwujudkan untuk menjaga keselamatan Soekarno, tetapi juga sebagai contoh bagaimana keamanan bisa menjadi bagian dari politik nasional. Selain itu, kejadian ini menjadi kisah inspiratif bagi pengawal yang berani menghadapi bahaya demi menjaga ketertiban.
